Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada kuartal I-2014 mengalami penurunan jika dibandingkan kuartal yang sama di tahun sebelumnya. Meski demikian, kondisi ini diperkirakan akan membaik pada kuartal mendatang.
Kepala BPS Suryamin menjelaskan, nilai ITB Kuartal II-2014 diperkirakan meningkat ke 105,98. Artinya, secara umum kondisi bisnis pada Kuartal II-2014 diperkirakan akan meningkat dibandingkan kuartal I-2014.
"Tingkat optimisme pelaku bisnis dalam melihat potensi bisnis pada kuartal II-2014 diperkirakan lebih tinggi, dibandingkan kuartal I-2014," tutur dia di Jakarta, Senin (5/5/2014).
Menurutnya, seluruh sektor ekonomi diperkirakan mengalam peningkatan kondisi bisnis pada kuartal II-2014, kecuali sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai ITB sebesar 99,80.
"Peningkatan bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan, dengan nilai indeks sebesar 109,45," tutur dia.
Dia menambahkan, peningkatan kondisi bisnis pada kuartal II-2014 diperkirakan terjadi karena adanya peningkatan harga jual produk, dengan nilai indeks sebesar 107,10, order dalam negeri dengan nilai sebesar 106,03 dan order barang input dengan nilai indeks sebesar 104,35.
"Peningkatan tertinggi untuk harga jual diperkirakan terjadi pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan nilai indeks sebesar 111,88 dan terendah terjadi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dengan nilai indeks sebesar 103,48," jelas dia.
Senin, 05 Mei 2014
HPP Gula Hanya Berpengaruh 0,008% ke Inflasi
Kementerian Perdagangan (Kemendag) baru saja menetapkan harga pokok penjualan (HPP) gula tahun 2014 dengan nilai sebesar Rp8.250 per kilogram (kg). Di mana, penetapan HPP gula ini didapat berdasarkan laporan dari dewan gula yang melaporkan rendemen gula pada 2014 sebesar 8,07 persen.
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, dengan mentapkan HPP gula sebesar Rp8.250 per kg, akan memberikan dampak yang sangat minim terhadap inflasi.
"Kontribusinya 0,008 persen ke inflasi, enggak sampai 1 termin. Semoga ini menjadi acuan," kata Lutfi di Kantornya, Jakarta, Senin (5/5/2014).
Lutfi mengungkapkan, penetapan HPP gula untuk tahun 2014 bukan hanya berdasarkan rendemen yang sebesar 8,07 persen. Melainkan lantaran telah dihitung secara keseluruhan, mulai dari sewa lahan hingga biaya produksi.
Lanjut dia, penetapan rendemen pun telah didapat melalui surat yang telah dilayangkan oleh dewan gula yang diketuai oleh Menteri Pertanian (Mentan) Suswono.
"Dengan rendemen 8.07 persen itu menjadi acuan kita," tutupnya.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/320/980432/hpp-gula-hanya-berpengaruh-0-008-ke-inflasi
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I Diprediksi 5,4%
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Destry Damayanti memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2014 berada dikisaran 5,4 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang beberapa faktor, seperti sektor konsumsi yang tumbuh sebesar 5,1 persen.
"karena impor turun terus trennya terutama impor investment related, investasinya 3,5 persen melambat implikasinya impor melambat, tapi ekspor meningkat sedikit karena didorong cpo dan manufakturing yang naik," kata Destry di Jakarta, Senin (5/5/2014).
Destry mengungkapkan, pertumbuhan konsumsi pada kuartal I tahun ini tidak begitu dipengaruhi oleh pemilihan umum (pemilu) 2014. "Pemilu ada impeknya tapi gak terlalu signifikan dibanding periode tahun lalu dari sisi jumlah partai berkurang, tahun lalu 18 sekarang 12. Pengaruh juga karena makin ketat KPK sehingga jadi lebih hati-hati," tambahnya.
Oleh karena itu, Destry memprediksi pertumbuhan ekonomi 2014 yang sebesar 5,8 persen akan tercapai pada kuartal III tahun 2014. Namun, untuk kuartal I tahun 2014, dirinya berkeyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi berada dikisaran 5,4 persen.
Sebab, sambung Destry, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sangat tergantung dari ekspor yang dilakukan Indonesia, sebab investasi yang telah dikeluarkan tidak begitu saja balik dengan cepat.
"Saya sih 5,6 persen over all, 5,4 hingga 5,6 di kuartal I dan II, III perkirakan 5,6-5,8 persen, lalu bila China ekspornya re-balancingnya tidak smooth jadi dia mau mompa untuk konsumsi masyarakat dia, nah ekspor kita ke sana berkaitan dengan konsumsi mereka," tutupnya.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/04/20/979902/pertumbuhan-ekonomi-ri-kuartal-i-diprediksi-5-4
Wah, 50% Angkatan Kerja RI Cuma Lulusan SD
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan, dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015, Indonesia tidak perlu berandai-andai tentang sumber daya manusia (SDM). Sebab, angkatan kerja Indonesia hampir 50 persen hanya lulusan sekolah dasar (SD) atau kurang dari itu.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto (SBS) mengatakan, yang saat ini harus dilakukan pemerintah dan stakeholder lainnya adalah bagaimana mampu mengemas SDM yang jumlahnya sedikit namun memiliki keunggulan dan produktivitas yang tinggi.
"Sebagai contoh, kita memiliki SDM unggul di sektor industri kreatif, termasuk para seniman dan para ahli di bidang kuliner tradisional, kalau mereka dilengkapi dengan para pemandu wisata profesional akan dapat dikemas dalam sektor pariwisata," katanya di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (30/4/2014).
Selain itu, dia menilai perlunya peningkatan tataran industri kecil dan menengah agar mampu memberi kehidupan yang layak bagi masyarakat pada AEC 2015. Sebab, Indonesia masih memiliki nelayan, petani, dan tukang kayu yang belum dikemas dalam suatu industri modern yang kompetitif. "Pembangunan di masa depan Indonesia ini harus melakukan pembangunan dengan arah ke bawah, dalam kerangka pembangunan ekonomi inklusif," tambahnya.
Pembangunan tersebut harus mampu ditujukan ke arah perluasan pelayanan kepada masyarakat, dari sisi kredit perbankan 30 persen UMKM mampu menyerap dana tidak kurang dari Rp600 triliun. Sementara untuk para ahli teknologi informatika dan telekomunikasi serta tamatan SMK juga masih banyak yang belum dikemas dalam industri tertentu.
"Dalam hal ketenagakerjaan, terutama tentang TKI, Kadin menyadari penanganannya memerlukan sinergi dari beberapa instansi pemerintah dan pihak swasta," pungkasnya.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/04/30/320/978018/wah-50-angkatan-kerja-ri-cuma-lulusan-sd
Diam-Diam, RI Impor Beras Lagi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat besaran angka impor beras mengalami peningkatan yang signifikan pada transaksi perdagangan Indonesia Maret 2014. Sepanjang Maret 2014, transaksi perdagangan khusus untuk komoditas beras mencapai USD11,21 juta atau Rp128,915 miliar jika mengacu kurs Rp11.500 per USD.
Tercatat, sejak akhir Januari dan sepanjang Februari 2014 impor beras menurun hingga USD1,17 juta dari sebelumnya USD14,47 juta yang terjadi pada Januari. Data BPS memaparkan, semua negara mitra dagang utama Indonesia tercatat tidak melakukan transaksi impor beras sepanjang Februari 2014, kecuali Thailand yang tercatat melakukan transaksi sebesar USD1,17 juta untuk besaran volume 2.200 ton.
Memasuki perdagangan Maret 2014, India dan Pakistan tercatat kembali melakukan transaksi impor beras dengan Indonesia. Nilai transaksi kedua negara untuk komoditas tersebut masing-masing mencapai USD4,65 juta dan USD1,13 juta. Sedangkan transaksi perdagangan dengan Thailand tercatat naik pada bulan tersebut hingga mencapai angka USD5,43 juta.
Dari data tersebut tercatat, sepanjang 2014 ini besaran transaksi impor khusus untuk komoditas beras telah mencapai angka USD26,87 juta dengan besaran volume 60.796,8 ton beras. Demikian dilansir dari data BPS, Senin (5/5/2014).
Sekadar informasi, Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menemukan beras impor sebanyak 1.500 ton di Pasar Induk Cipinang. Wamendag Bayu Krisnamurthi saat melakukan kunjungan ke pusat beras Jakarta di Pasar Induk Cipinang bersama Menko Perekonomian Hatta Rajasa dikeluhkan oleh seorang pedagang beras tentang adanya beras impor asal Vietnam yang masuk ke pasar tersebut.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/320/980409/diam-diam-ri-impor-beras-lagi
Menkeu: Pelambatan Pertumbuhan Ekonomi Bagian dari Strategi
Menteri Keuangan, Chatib Basri menyatakan pelambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mengatasi besaran defisit dalam neraca transaksi berjalan.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan besaran pertumbuhan ekonomi nasional yang tercermin dalam besaran Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai 5,21 persen
“Perlambatan pertumbuhan memang bagian dari strategi untuk mengatasi current account deficit. Sumber penurunannya (pertumbuhan) adalah ekspor bukan investasi,” tuturnya ketika dihubungi wartawan, Senin (5/5/2014).
Menurut dia besaran tersebut masih relevan. Dirinya menyatakan besaran PDB tanpa sektor Minyak dan Gas bisa mencapai 5,56 persen. Untuk itu Chatib berharap besaran pertumbuhan akan mencapai angka di atas 5,5 persen.
“Masih relevan. Ya angka ini memang lebih rendah dari perkiraan saya. Namun pertumbuhan diharapkan di atas 5.5 persen, karena kita juga tidak ingin terlalu rendah,” terangnya.
Chatib juga menambahkan, faktor pendorong pelambatan pertumbuhan yang berasal dari sisi ekspor seharusnya bisa diperbaiki melalui perbaikan ekonomi Amerika Serikat dan Jepang yang merupakan mitra dagang utama Indonesia.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/20/980373/menkeu-pelambatan-pertumbuhan-ekonomi-bagian-dari-strategi
Harga Jual-Beli Valas di BNI, BRI, Mandiri & BCA
Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat 10 poin ke Rp11.515 per USD. Rupiah bergerak dalam kisaran Rp11.515-Rp11.520 per USD.
Berikut nilai tukar Rupiah di beberapa perbankan besar terhadap beberapa mata uang utama seperti dolar Amerika Serikat (USD), dolar Singapura (SGD), dan yen Jepang (JPY):
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada pukul 09.25 WIB
Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp11.468 per USD, dan kurs jual sebesar Rp11.632 per USD.
Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.108 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.359 per dolar Singapura.
Yen Jepang, dengan kurs beli sebesar Rp111,21 per yen, dan kurs jual sebesar Rp115,10 per yen.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada pukul 09.44 WIB
Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp11.410 per USD, dan kurs jual sebesar Rp11.610 per USD.
Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.083 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.310 per dolar Singapura.
Yen Jepang dengan kurs beli sebesar Rp110,64 per yen, dan kurs jual sebesar Rp115,60 per yen.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada pukul 08.13 WIB
Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp11.411 per USD, dan kurs jual sebesar Rp11.609 per USD.
Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp8.902 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.502 per dolar Singapura.
Yen Jepang, dengan kurs beli sebesar Rp109,91 per yen, dan kurs jual sebesar Rp115,41 per yen.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada pukul 07.21 WIB
Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp11.495 per USD, dan kurs jual sebesar Rp11.545 per USD.
Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.185 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.235 per dolar Singapura.
Yen Jepang dengan kurs beli sebesar Rp111,20 per yen, dan kurs jual sebesar Rp114,20 per yen.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/278/980040/harga-jual-beli-valas-di-bni-bri-mandiri-bca
Neraca Dagang RI Surplus Berkat Negara-Negara Ini
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan total neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2014 kembali mengalami surplus sebesar USD0,7 miliar. Surplusnya neraca perdagangan pada kuartal I-2014 ini lantaran disebabkan oleh kinerja ekspor nonmigas yang memberikan kontribusi besar terhadap surplus neraca perdagangan Maret 2014.
Namun, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, negara mitra dagang Indonesia yang memberikan kontribusi besar terhadap surplusnya perdagangan Indonesia di kuartal I 2014 adalah India, Amerika Serikat (AS), Belanda, Filipina, dan UEA.
"Mereka menyumbang surplus sebesar USD0,5 miliar sampai USD1,9 miliar," kata Lutfi di Kantornya, Jakarta, Senin (5/5/2014).
Lutfi menambahkan, neraca nonmigas Indonesia di Maret 2014 tercatat surplus sebesar USD2,0 miliar, atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai USD1,6 miliar, dan lebih besar jika dibandingkan dengan Maret pada 2013 yang hanya mencapai USD1,1 miliar.
"Surplus perdagangan nonmigas ini menghasilkan surplus total neraca perdagangan kita mencapai USD673,2 juta," tambahnya.
Secara kumulatif, kata Lutfi, selama Januari hingga Maret 2014, total neraca perdagangan mengalami surplus USD1,1 miliar, terdiri dari neraca nonmigas surplus USD4,2 miliar, sementara neraca migas defisit USD3,1 miliar.
Tidak hanya itu, lanjut Lutfi, adapun beberapa negara yang masih berperan membuat defisit neraca perdagangan Indonesia. Negara tersebut merupakan negara mitra dagang Indonesia, seperti China, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Jerman.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/320/980231/neraca-dagang-ri-surplus-berkat-negara-negara-ini
Perbankan BUMN Terlalu Banyak Dipolitisasi
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana menggabungkan beberapa BUMN untuk melakukan konsolidasi di bidang keuangan. Adapun BUMN yang ingin digabung antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Pegadaian.
Pengamat BUMN Mohammad Said Didu menilai, sebenarnya langkah kementerian BUMN untuk melakukan konsolidasi antara Bank Mandiri-Bank BTN dan BRI-Pegadaian merupakan strategi yang tepat.
Menurutnya, keempat entitas lembaga keuangan milik pemerintah tersebut memiliki karakater dan model bisnis yang saling melengkapi. Konsolidasi Bank Mandiri-BTN akan menjadikan kedua bank semakin kuat dan sehat.
BTN dengan peran dan fungsi strategisnya sebagai bank perumahan akan mendapatkan banyak manfaat dengan menjadi bagian dari Bank Mandiri. Selain akan mendapatkan sumber pendanaan yang lebih mudah, modal bank juga dapat diperkuat tanpa pemerintah harus kehilangan sahamnya di BTN.
"Konsolidasi BTN-Bank Mandiri akan menciptakan sinergi yang sangat positif bagi kedua bank dan masyarakat Indonesia. Dengan kapasitas modal dan pendanaan yang semakin kuat, BTN akan memiliki kesempatan untuk membiayai perumahan baik untuk kelas menengah bawah maupun atas," kata dia di Jakarta, Senin (5/5/2014).
Sampai kuartal I 2014, BTN berhasil menyalurkan kredit ke sektor properti sebesar Rp 89,71 triliun. Namun, BTN harus menghadapi masalah lantaran tingkat loan to deposit (LDR) perseroan lebih dari 100 persen, jauh di atas ketentuan bank Indonesia di kisaran 78 persen-92 persen.
Sementara modal BTN juga tergerus menjadi 15,74 persen dari sebelumnya tahun 2013 sebesar 17,40 persen. Dengan modal yang menciut dan pendanaan yang terbatas, BTN justru menghadapi masalah kredit macet yang mencapai 3,5 persen, jauh di atas rata-rata NPL nett 10 bank terbesar yang masih di bawah 1 persen.
Sementara konsolidasi BRI-Pegadaian akan semakin memperkuat BUMN dalam membiayai sektor-sektor usaha mikro yang selama ini merupakan fondasi utama perekonomian Indonesia.
BRI dengan kemampuan modal, pendanaan yang besar dan jaringan yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia akan menjadi patner yang baik bagi Pegadaian. Sinergi ini akan memungkinkan bank-bank BUMN mengoptimalkan seluruh potensi di dalam negeri, sehingga dapat bersaing secara global.
"Kita ingin bank-bank BUMN itu bisa menjadi penggerak ekonomi nasional. Jika terus dipolitisasi dan upaya memperkuat bank BUMN selalu digagalkan, yang akan dirugikan adalah masyarakat Indonesia. Seharusnya pemerintah saat ini bangga bisa memperkuat bank-bank BUMN di akhir masa pemerintahannya," tegasnya.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/457/980060/perbankan-bumn-terlalu-banyak-dipolitisasi
Ekonomi Melambat, Rupiah Menguat Malu-Malu
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis. Perkembangan data ekonomi makro Indonesia, telah membuat Rupiah tertekan.
Melansir Bloomberg Dollar Index, Senin (5/5/2014), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat tipis 10 poin ke Rp11.520 per USD. Adapun pergerakan Rupiah hari ini, berada di kisaran Rp11.501-Rp11.540 per USD.
Sementara kurs Spot Bank Indonesia (BI), dalam Jisdor, tercatat berada di Rp11.511 per USD. BI mencatat Rupiah bergerak dalam kisaran Rp11.453-Rp11.569 per USD.
Rupiah tertekan, lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengalami kontraksi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun ini berada pada posisi 5,21 persen secara year on year (yoy).
Angka ini turun dari besaran Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai angka 5,62 persen yoy. Besaran PDB secara kuartal ke kuartal (q to q) naik 0,95 persen dibandingkan kuartal-IV 2013.
Pertumbuhan PDB menurut sektor ekonomi q to q paling tinggi naik di sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan yang mencapai 22,7 persen. Diikuti sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan sebesar 2,19 persen serta sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 1,11 persen.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/278/980343/ekonomi-melambat-rupiah-menguat-malu-malu
Apindo: Listrik Naik, Sudah Ada Industri yang Tutup
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan sudah ada beberapa industri yang tutup akibat kenaikan tarif tenaga listrik untuk sektor industri yang berlaku pada hari ini.
"Sudah ada yang tutup duluan beberapa industri kaya industri kimia, karena enggak sanggup bayarnya," ujar Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi kepada Okezone, Jakarta, Kamis (1/5/2014).
Menurut Sofjan, sektor-sektor industri yang sangat berdampak atas kenaikan tarif listrik ini adalah industri besi, industri kimia, industri tekstil serta industri yang besar seperti semen.
"Berat lah, dengan adanya kenaikan listrik mau enggak mau cost bakal naik, otomatis ya harga produk akan meningkat juga," tegas dia.
Dia menambahkan, dengan harga produk yang meningkat ini, akan menimbulkan kecemasan para industri karena akan kalah bersaing dengan harga produk impor yang lebih murah.
"Pasti kalah bersaing, impor akan banyak membanjiri karena lebih murah," pungkasnya.
Seperti yang diketahui, Pemerintah melalui PT PLN (Persero) resmi menaikkan Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk industri menengah I-3 (go public), industri besar I-4 mulai per hari ini. Kenaikan ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 09 Tahun 2014.
Dalam peraturan tersebut, tarif listrik akan naik setiap dua bulan sekali sekira 8,6 persen untuk perusahaan yang sudah go public (I-3) dan sekira 13,3 persen untuk industri besar (I-4). Dengan demikian, hingga akhir tahun ini tarif listrik untuk golongan I-3 akan naik sebesar 38,9 persen, sementara untuk golongan I-4 akan naik kumulatif sebesar 64,7 persen.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/01/320/978697/apindo-listrik-naik-sudah-ada-industri-yang-tutup
SBY Bangga Ekonomi RI Lampaui Australia, Arab & Korea
World Bank menempatkan Indonesia pada 10 ekonomi besar dunia berdasarkan dari Gross Domestic Product (GDP) dan purchasing power parity (PPP/tingkat daya beli).
Kabar ini, diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Menteri Keuangan (Menkeu) M Chatib Basri. Oleh karena itu, SBY pun mengucapkan rasa syukurnya.
Dalam akun twitter pribadinya itu, Presiden SBY menyampaikan, dari ukuran GDP (PPP), Indonesia menempati peringkat 10 dengan share 2,3 persen dari total GDP Dunia. “Ini melampaui banyak negara besar,” kata SBY dalam akun twitter pribadinya @SBYudhoyono, seperti dilansir dari Setkab, Senin (5/4/2014).
Adapun 10 Ekonomi Besar Dunia tersebut adalah Amerika Serikat (AS), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India, Jepang, Jerman, Rusia, Brasil, Prancis, Inggris dan Indonesia.
Sementara urutan 11-20 Ekonomi Besar Dunia adalah Italia, Mexico, Spanyol, Korea, Kanada, Saudi Arabia, Turki, Iran, Australia, dan Taiwan.
Jangan Sia-Siakan
Karenanya, Presiden SBY mengajak segenap lapisan masyarakat untuk tidak menyia-nyiakannya. "Dengan bekerja lebih keras lagi, bangsa ini harus sungguh bersatu agar makin maju,” tulis SBY dalam akun twitter pribadinya itu.
Ke depan, masyarakat diminta untuk membangun ekonomi secara adil dan berkelanjutan, agar seluruh rakyat Indonesia lebih sejahtera lagi. “Ke depan juga, persaingan global makin keras," tukas dia.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/20/980020/sby-bangga-ekonomi-ri-lampaui-australia-arab-korea
SBY: Indonesia Peringkat 10 Ekonomi Dunia
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, saat ini Bank Dunia menempatkan Indonesia peringkat ke-10 ekonomi dunia terutama bila dilihat dari Gross Domestic Product (GDP).
"Alhamdulillah, Indonesia ditetapkan sebagai ekonomi nomor 10 dunia," kata SBY di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Sabtu (3/4/2014) malam.
Kata SBY, ia mendapat laporan tentang capaian Indonesia tersebut dari Menkeu Chatib Basri. Indonesia berada peringkat ekonomi ke-10 di dunia, setelah AS, Tiongkok, India, Jepang, Jerman, Rusia, Brazil, Perancis, dan Inggris.
"Tentu ini awal yang baik, tapi masih panjang perjalanan kita, masih banyak masalah yang harus diatasi,"ucapnya.
Oleh karena itu, SBY meminta kepada masyarakat agar dapat mensyukuri capaian tersebut. "Insya Allah Indonesia bisa,"tutupnya
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/04/20/979763/sby-indonesia-peringkat-10-ekonomi-dunia
Rupiah Melaju Tinggalkan IHSG yang Terpuruk
Pasca mengalami pelemahan, laju nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) mampu kembali ke zona hijau sepanjang pekan kemarin. Laju nilai tukar Rupiah di awal pekan kemarin mampu melanjutkan penguatan berbanding terbalik dengan laju IHSG yang terpuruk ke zona merah.
Adanya rilis kinerja dari beberapa emiten yang di bawah estimasi dan rilis penurunan markit services PMI AS, serta masih adanya potensi ketegangan di Ukraina memberikan tambahan sentimen negatif bagi mata uang dolar AS.
"Pelaku pasar cenderung wait & see terhadap rilis data-data terkait pending home sales dan ekspektasi atas data-data AS lainnya sehingga memberikan tekanan pada laju dolar dan Rupiah pun memanfaatkan kondisi tersebut untuk bergerak naik," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada dalam riset, Minggu (4/5/2014).
Laju nilai tukar Rupiah jelang libur MayDay bergerak dalam zona hijau seiring respon pelaku pasar terhadap rilis lebih rendahnya CB consumer confidence dan Case Shiller Home price AS yang membuat nilai dolar bergerak melemah.
Belum terlalu kuatnya data-data ekonomi AS membuat banyak spekulasi di pasar akan tertundanya pemangkasan stimulus sehingga nilai US$ pun melemah dan dimanfaatkan oleh laju mata uang lainnya, termasuk Rupiah untuk menguat.
Terapresiasinya Rupiah juga didukung pernyataan World Bank yang menanggapi positif adaptasi pengelolaan risiko Indoneisa. "Rupiah bertahan di atas target support Rp11.617, dan dalam kisaran Rp11.605-Rp11.528 (kurs tengah BI)," ungkap Reza.
Rupiah akhirnya mampu bertahan dari potensi pelemahannya. Di pekan depan, diharapkan rilis GDP Indonesia dapat membuat Rupiah mampu mempertahankan kenaikannya, namun rilis GDP tersebut sesuai dengan perkiraan pelaku pasar.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/04/278/979882/rupiah-melaju-tinggalkan-ihsg-yang-terpuruk
Impor BBM Tidak Bisa Ditahan, Ini Alasannya
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada bulan Maret 2014, necara perdagangan Indonesia surplus sebesar USD680 juta (Rp7,820 triliun dengan kurs Rp11.500 per USD).
Surplus ini dicatat dengan nilai ekspor selama Maret sebesar USD15,21 miliar dan nilai impor USD14,54 miliar. Sehingga secara komulatif Januari-Maret 2014, neraca perdagangan surplus USD1,07 miliar dengan nlai ekspor USD44,32 dan impor USD43,25 miliar.
Kendati demikan, neraca perdagangan sektor migas masih mengalami defisit USD1,37 miliar. Pengamat ekonomi Ryan Kiryanto mengatakan catatan surplus ini di-drive oleh nilai ekspor non migas yang relatif meningkat karena di beberapa negara asing ekonominya sudah memperlihatkan pertumbuhan.
"Di beberapa negara, negara asing sudah tumbuh, misalnya di Jepang ekonominya tumbuh, di Tiongkok walau mengalami perlambatan tapi tumbuh 7,5 persen di kuartal I, lalu di Amerika tetap tumbuh walau sedikit sekita 0,1 persen dan di Eropa beberapa sudah lepas dari krisis," ucap Ryan di Jakarta, Sabtu (3/5/2014).
Menurut Ryan, negara-negara tersebut merupakan negara ini yang menjadi tujuan ekspor utama dari produk-produk non migas Indonesia.
Dia menambahkan, di sisi lain dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang ketat, lalu kebijkakan fiskal juga ketat sehingga tekanan sisi impor nonmigas dapat ditekan.
"Tapi sayangnya impor BBM masih tinggi karena jumlah kendaraan roda dua dan empat bertambah. Impor BBM tidak bisa ditahan. Cuma yang bisa ditahan adalah impor nonmigas," pungkasnya.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/03/19/979585/impor-bbm-tidak-bisa-ditahan-ini-alasannya
Sewa Satelit Rp300 Miliar/Tahun, Mandiri Tak Berminat Beli Satelit
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengaku masih belum berkeinginan mengikuti jejak PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) memiliki satelit pribadi. Hal tersebut lantaran jaringan perbankan pelat merah ini belum seluas jaringan yang dimiliki Bank BRI yang sudah sampai pelosok wilayah di Indonesia.
"BRI jaringannya banyak, kalau Mandiri kami pakai jaringannya Telkom dan Indosat. Mandiri kita kan cabangnya tidak sebanyak BRI," jelas Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin, di Jakarta, Minggu (4/5/2014).
Namun, Budi mengungkapkan, dengan adanya satelit milik BRI ini, dirinya menilai sangat baik, di mana provider baru akan tercipta dan akan bersaing dalam menciptkan harga sewa.
"kita cari yang paling murah, sewa harganya saya tidak tahu, tapi jika itu sewa kayak bayar pulsa. Kalau buat kita makin murah makin bagus," tambahnya.
Selama ini, sambung Budi, perseroan telah menyewa satelit dengan biaya sewa antara Rp200 miliar sampai Rp300 miliar setiap tahunnya. Namun, dirinya masih belum menyatakan sikap pasti akan menyewa satelit milik BRI atau tidak ke depannya.
"kalau dia pilih paket murah pasti kita pilih selama kualitasnya bagus dan murah kita ambil," tutupnya.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/04/457/979834/sewa-satelit-rp300-miliar-tahun-mandiri-tak-berminat-beli-satelit
Pertumbuhan Pasar Modal RI Terbesar Kedua di Asia
Pasar modal Indonesia tumbuh paling cepat dibandingkan dengan pertumbuhan negara Asia lainnya. Bahkan pertumbuhannya mampu melampaui negara Korea Selatan, China, dan Thailand.
Tercatat hingga 2 Mei 2014, pasar modal tumbuh 13,21 persen dibandingkan dengan akhir 2013. Sementara Filipina berada di posisi pertama dengan pertumbuhan 14,48 persen.
"Namun kapitalisasi pasar Indonesia jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara Regional," kata Wakil Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto dalam "Dialog Pendalaman Pasar Modal Indonesia di Era Pasar Bebas ASEAN" di Hotel Pullman Jakarta, Senin (5/5/2014).
Per Maret 2014, kapitalisasi pasar Indonesia baru USD415 miliar. Nilai ini lebih kecil dibandingkan Jepang yang mencapai USD4,5 triliun dan Hong Kong sebesar USD3 triliun. Indonesia hanya berbeda tipis dengan Thailand dan Filipina yang masing-masing mendekati USD500 miliar.
Rahmat menambahkan, dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), pasar modal Indonesia perlu diperdalam. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memperbanyak investor domestik.
Selain itu, tantangan lainnya adalah jumlah emiten di pasar modal. Saat ini jumlah emiten di Indonesia lebih sedikit dibandingkan Malaysia dan Singapura yang jumlahnya masing-masing 906 dan 767 emiten.
"Jumlah emiten di Indonesia baru 489 emiten, masih kalah dibandingkan dengan negara seperti Malaysia dan Singapura," kata Kepala Eksekutif Bidang Pasar Modal OJK Nurhaida.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/278/980176/pertumbuhan-pasar-modal-ri-terbesar-kedua-di-asia
Kisruh Ukraina Gosok Kilau Emas Global ke USD1.300
Emas global diperdagangkan mendekati level tertinggi satu mingguan. Emas global tetap mempertahankan kenaikan tajam dari sesi sebelumnya, didukung oleh ketegangan dan kekerasan di Ukraina.
Militan Pro-Rusia menyerbu sebuah kantor polisi Ukraina di Odessa pada hari Minggu, dan membebaskan hampir 70 sesama aktivis. Para pemimpin negara menyesalkan kejadian yang telah merusak kantor kepolisian tersebut oleh kelompok separatis. Para militan memecahkan jendela dan membongkar gerbang, dua hari setelah lebih dari 40 aktivis pro-Rusia tewas bentork dengan kelompok-kelompok pro-Kiev.
Melansir Reuters, Senin (5/4/2014), emas Spot naik 51 sen ke USD1.300,33 per troy ons. Sementara emas berjangka AS, Comex Gold, turun USD1,9 atau 0,15 persen menjadi USD1.301 per troy ons.
Sentimen emas global juga tertekan data pekerjaan AS. Pengusaha mencatat para pekerja berada pada tingkat tercepat dalam lebih dari dua tahunan. Namun, ada peningkatan tajam dalam jumlah orang yang putus kerja, dan mendorong tingkat pengangguran ke level terendah 5,5 tahunan.
SPDR Gold Trust, emas terbesar di dunia dana yang diperdagangkan di bursa, mengatakan kepemilikan sahamnya jatuh 2,70 ton menjadi 782,85 ton pada hari Jumat kerugian ketiga berturut-turut.
(mrt)
sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/213/980048/kisruh-ukraina-gosok-kilau-emas-global-ke-usd1-300
Listrik Naik, Industri Baja Minta Bebas Bea Masuk
Kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk sektor industri yang sudah berlaku 1 Mei 2014 sangat mengganggu industri baja nasional. Masalahnya, listrik yang digunakan oleh industri baja cukup besar.
"Konsumsi listriknya sekira 20-30 persen. Jadi bisa dibayangkan, komposisi energi besar dan adanya kenaikan listrik yang mencapai 64,7 persen ini akan mempengaruhi industri ini," ucap Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Harjanto di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (5/5/2014).
Harjanto menegaskan, dengan kenaikan tarif listrik yang tinggi, akan berdampak dengan banyaknya produk impor yang lebih murah. Pasalnya, pelaku industri baja nasional akan menaikkan harga untuk mengantisipasi kenaikan listrik ini. "Akan membuat Industri dalam negeri condong tidak hanya baja, tekstil akan menggunakan produk impor yang lebih murah," tegasnya.
Harjanto mengungkapkan, untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Perindustrian mempunyai usulan untuk relaksasi industri baja dalam negeri. Menurutnya, usulan ini muncul dari beberapa asosiasi industri.
"Saya dapat usulan yang terbaik dari berbagai asosiasi industri yakni membebaskan biaya masuk bagi penggunaan mesin-mesin yang dipakai. Dan ini bisa terjadi di industri lain, tidak hanya dibaja," imbuhnya.
Selain itu, penundaan usulan pengenaan PPn yang akan diusulkan ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan BKF. Namun, usul ini masih dalam tahap kajian semata.
"Lalu akan kita sampaikan ke Kemenkeu dan BKF, tapi belum diputuskan. Banyak bentuk-bentuk lain yang bisa kita berikan untuk relaksasi, walaupun belum ada yang ngejawab. Ini paling tidak bisa tingkatkan daya saing industri hadapi AEC 2015," paparnya.
Sementara itu, perwakilan dari Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) mengakui industri baja nasional tidak terlepas dari kebutuhan listrik. “Industri baja itu butuh listrik ya kira-kira 500 kwh per ton, lalu lahan dan infrastruktur," pungkasnya.
Seperti yang diketahui, Pemerintah melalui PT PLN (Persero) resmi menaikkan Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk industri menengah I-3 (go public), industri besar I-4 mulai per hari ini. Kenaikan ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 09 Tahun 2014.
Dalam peraturan tersebut, tarif listrik akan naik setiap dua bulan sekali sekira 8,6 persen untuk perusahaan yang sudah go public (I-3) dan sekira 13,3 persen untuk industri besar (I-4). Dengan demikian, hingga akhir tahun ini tarif listrik untuk golongan I-3 akan naik sebesar 38,9 persen, sementara untuk golongan I-4 akan naik kumulatif sebesar 64,7 persen.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/320/980149/listrik-naik-industri-baja-minta-bebas-bea-masuk
Mendag: Biodiesel Hemat Devisa USD3,5 Miliar
Kementerian Perdagangan (Kemendag) penggunaan bio diesel dalam pencampuran ke dalam bahan bakar minyak (BBM) sebesar 10 persen ini menjadi tren Indonesia ke depannya. Hal tersebut menjadi penting lantaran banyaknya produk yang digunakan di Indonesia didapat melalui impor dan pada akhirnya kembali di ekspor.
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, tren baik penggunaan bio diesel ini dapat menekan nilai impor BBM yang selama ini telah dilakukan. Di mana, bio diesel mampu mensubstitusi hal tersebut.
"Komitmen 10 persen ini kita sudah hitung penghematan devisa USD3,5 miliar," kata Lutfi di Kantornya, Jakarta, Senin (5/5/2014).
Lutfi melanjutkan, tidak hanya memberikan dampak kepada penghematan devisa, tren baik bio diesel ini juga berdampak baik bagi turunannya di luar devisa, seperti pembayaran pajak, dan penyerapan tenaga kerja Indonesia
Tidak hanya biodiesel, Lutfi mengungkapkan penekanan impor BBM juga dapat dilakukan dengan substitusi energi panas bumi atau geotermal. Oleh karena itu, dirinya pun berharap pemerintah Indonesia dapat terus mendorong program geotermal dalam negeri.
"Barang ini (geotermal) tidak bisa dijual ke mana-mana, tapi strukturnya sangat tinggi. Kita mesti jaga dalam negerinya, saya pikir biodiesel dalam 5-6 tahun ke depan 40 persen," tukas dia.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/05/19/980248/mendag-biodiesel-hemat-devisa-usd3-5-miliar
Langganan:
Postingan (Atom)