Senin, 05 Mei 2014
Impor BBM Tidak Bisa Ditahan, Ini Alasannya
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada bulan Maret 2014, necara perdagangan Indonesia surplus sebesar USD680 juta (Rp7,820 triliun dengan kurs Rp11.500 per USD).
Surplus ini dicatat dengan nilai ekspor selama Maret sebesar USD15,21 miliar dan nilai impor USD14,54 miliar. Sehingga secara komulatif Januari-Maret 2014, neraca perdagangan surplus USD1,07 miliar dengan nlai ekspor USD44,32 dan impor USD43,25 miliar.
Kendati demikan, neraca perdagangan sektor migas masih mengalami defisit USD1,37 miliar. Pengamat ekonomi Ryan Kiryanto mengatakan catatan surplus ini di-drive oleh nilai ekspor non migas yang relatif meningkat karena di beberapa negara asing ekonominya sudah memperlihatkan pertumbuhan.
"Di beberapa negara, negara asing sudah tumbuh, misalnya di Jepang ekonominya tumbuh, di Tiongkok walau mengalami perlambatan tapi tumbuh 7,5 persen di kuartal I, lalu di Amerika tetap tumbuh walau sedikit sekita 0,1 persen dan di Eropa beberapa sudah lepas dari krisis," ucap Ryan di Jakarta, Sabtu (3/5/2014).
Menurut Ryan, negara-negara tersebut merupakan negara ini yang menjadi tujuan ekspor utama dari produk-produk non migas Indonesia.
Dia menambahkan, di sisi lain dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang ketat, lalu kebijkakan fiskal juga ketat sehingga tekanan sisi impor nonmigas dapat ditekan.
"Tapi sayangnya impor BBM masih tinggi karena jumlah kendaraan roda dua dan empat bertambah. Impor BBM tidak bisa ditahan. Cuma yang bisa ditahan adalah impor nonmigas," pungkasnya.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2014/05/03/19/979585/impor-bbm-tidak-bisa-ditahan-ini-alasannya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar